Pages

Sabtu, 31 Oktober 2015

Mereka Salatnya Gimana?

Pagi menjelang siang tadi saya menjumpai seorang guru di sekolah MTsN M*d** tempat dimana saya merencanakan melakukan penelitian. Tidak ada yang begitu istimewa terkait beberapa diskusi kami. Hanya diskusi ringan seputar bagaimana prosedur penelitian dan alternatif yang akan dipakai jika keadaan menjadi tidak terkendali. Sebab, mengajar itu 'gli-gli meunan' kadang-kadang.

Diskusi perencanaan penelitian tidak berlangsung lama. Karena poin yang saya butuhkan telah cukup. Bisa diperkirakan hanya berlangsung lima belas menit. Biar gak kobong cepat kali pulang, akhirnya pembicaraan beralih ke seputar thesis beliau. Ngomong-ngomong, kami sama-sama tengah berjuang lho. Jadi bisa dibilang, kami sudah sehati dan saling mengerti. Eeeaaa..

Hingga saatnya tiba, beliau tiba-tiba bertanya, saya dulunya PPL dimana. Sempat terbersit di hati saya, pasti ujung-ujungnya nanya prestasi anak didik di sekolah tempat saya mengabdi selama kurang lebih tiga bulan itu. Apa yang membedakan mereka dengan murid di sekolah lain. Biasanya yang suka tanya, penasaran akan hal itu. Sama satu lagi, "Jadi ngajarnya pakai bahasa Inggris?", dengan nada seperempat terkejut.

Well yeah, tenang. Bahasa Inggris saya masih standar untuk anak sekolahan kok. TOEFL saja masih belum lewat-lewat. Masih banyak perjuangan saya ternyata. Kalau kata Afghan, "terlalu sadis caramu".

Hanya-mungkin-Tuhan punya rencana lain untuk saya sehingga saya bisa PPL disana. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Demikian De Masiv pernah menasihati saya secara personal lewat liriknya yang amboi mendayu-dayu, bikin mata kuyu dan sayu. *hah? personal? apa-apaan! dan lagi, jangan tanya apa arti kuyu. Hanya pernah baca dan kayaknya keren aja gitu jika disandingkan dengan kata sayu.

Benar saja. Apa yang terbersit dan bermain di pikiran saya tadi terealisasi. Beliau bertanya, saya menjawab. Namun, pertanyaan anti mainstream yang saya dapat adalah, "Mereka salatnya gimana?". Nanyain salat, Bro.

Demi menjawab pertanyaan tak terduga, tak terencana dan perdana ini, saya terdiam beberapa saat, tapi tidak membisu. *Maksudnya?
Selow lah, selow. Gak usah heboh gitu.

Perasaan saya haru, namun sekaligus serasa diskak mat. Ibarat catur, raja tersudutkan oleh aksi cantik mess (kami bilangnya mess, sebutan untuk ratu/ menteri) dan benteng dari pihak lawan. Maju kena, mundur kena.
Ibu ini penasaran seputar salat mereka. Saya urung bertanya apa yang menyebabkan ibu ini bertanya demikian. Seolah ada sedikit keraguan disana. Tapi, ah sudahlah. Meski dalam perjalanan pulang, terbayang-bayang juga. Ada sesal untuk sebuah pertanyaan yang tidak jadi saya tanyakan itu. Penasaran, meeen.

Makin ngefans lah sama ibu ini. Meski jawaban saya sangat sederhana, namun saya salut untuk pertanyaan yang saya anggap 'cerdas' ini, karena tak terpikirkan oleh penanya yang sudah-sudah. Itu!

Kamis, 01 Oktober 2015

Mahasiswa Baru : Nyesal Pilih Aceh!

Menceburkan diri dalam aktivitas membaca cukup membantu mengurangi penatnya aktivitas menyelesaikan tugas akhir. Maka, eloklah putusan untuk hijrah ke toko buku menjadi pilihan menyilaukan. Ada beberapa buku yang menjadi incaran hari ini. Meski sebenarnya buku yang beberapa waktu lalu belumlah khatam.

Sayang, toko bukunya tutup. Tak ingin berpindah ke lain hati (baca: toko), saya memutuskan untuk pulang. Mencoba menikmati suasana sore di jalanan, hingga sampai di jalan Inong Balee, terlihat seorang gadis berlari-lari tidak karuan. Sontak hal ini menjadi pemandangan asing bagi beberapa orang di sekitar jalanan, terlebih pandangan saya.

Laju motor sengaja saya pelankan, mencoba menerka ada gerangan apa. Akal dan hati kali ini tumben sejalan. Saya memutuskan untuk menoleh ke arahnya saat laju motor kian mendekat.

Dan hasilnyaaaa..

“Kak...Kak...”, sapa gadis ini sambil memainkan tangannya, persis seperti penumpang menyetop taksi. Refkles, tangan berhenti mengegas motor.

“Iya”, jawab saya sekenanya. Bukan sekena sebenarnya, namun hanya kata itu yang meluncur manakala melihat mata gadis ini gerimis dan mencoba mengatur pernapasan.

“Kakak mau kemana?”, dia memulai tanya. “Pulang”. Saya heran kenapa jadi “cool” seperti ini jawaban yang meluncur deras dari seorang saya.

“Kakak pulang kemana?”. Terdengar jelas suara ngos-ngosannya. Tak terduga berapa jauh dia lari-lari tadi. “Boleh saya numpang sampai Asrama Bidikmisi Unsyiah?”, tanyanya sambil menunjuk arah menuju asrama yang dituju.

Loh loh, ini kenapa skenarionya jadi seperti ini?

Saya masih trauma dengan aksi hipnotis tempo lalu. Meski sebenarnya bukan, tapi trauma sepanjang masa masih belum bisa ditepis.

Dalam pertimbangan, saya sempat memperhatikan setelan pakaian dan gerak gerik tubuhnya. Tidak ada yang mencurigakan memang, terlebih di tangannya, ia hanya sedang menggenggam kantong plastik minuman. Dugaan saya saat itu, Pop Ice. Alhamdulillah bukan pisau atau senjata tajam lainnya. (Ya elah, masak iya mau hipnotis atau ngerampok terang-terangan?). Jika pun ia ingin mencelakakan saya, maka tidak mungkin celaka hanya dengan sekantong plastik minuman Pop Ice.

Maka akhirnya...

“Boleh, Dek”, jawab saya setelah drama pertimbangan berkecamuk. Tak jelas kekuatan apa yang mendorong saya menjawab seperti itu. Hanya mencoba mensuplai energi positif, dan Bismillah, kita berangkat.

Masih dengan isak tangisnya, saya mencoba mengajukan pertanyaan yang umum ditanyakan saat melihat adegan seperti ini. “Ada apa, Dek? Kenapa tadi lari-lari?”

Sungguh jawaban yang ia sampaikan bukanlah jawaban yang ingin saya, Anda, dan kita semua dengar. Jawaban yang bikin saya tetiba, deg! Diam dalam ketidakpercayaan.

“Sepulang dari kampus”, ia berusaha menata suaranya yang jelas terdengar bergetar, “tiba-tiba ada Bapak-Bapak entah Abang-Abang menawarkan diri untuk membonceng saya sampai rumah, tapi dia minta pegang “itu” saya, Kak”, jawabnya dengan tangis yang semakin isak. Mungkin pikirannya masih menerawang, mencoba mereka ulang kejadian, hingga tangisnya pecah.

Astaghfirullah. Saya mencoba membatin berkali-kali. Masih tidak percaya dengan apa yang saya dengar dan adik ini alami. Wajar jika akhirnya ia melarikan diri dari sosok yang (maaf) menjijikkan itu.

Selama ini, saya hanya mendengar berita seperti ini dari teman, surat kabar, atau media televisi. Hanya saja sekarang saya mendengar langsung dari bakal calon korban.

Pengakuan tadi menjadi satu hal yang sangat memalukan. Pengakuan selanjutnya lebih mencengangkan, terutama bagi saya, selaku pihak yang menerima pesan langsung.

“Saya mahasiswa baru dari Medan. Tau seperti ini, nyesal pilih Aceh!”, akunya masih dengan isak tak terkendalikan.

Belum sembuh luka pendengaran saya mendengar pengakuan awal adek ini, telinga saya dipaksa kembali menderita mendengar pengakuan terakhirnya.

Ingin saya serbu adek ini dengan “Yang sekarang nolongin adek ini orang Aceh lho”. Agar ia sadar, tak semua orang Aceh seperti itu. Dan pun kan belum ada kepastian, laki-laki itu orang Aceh atau bukan. Satu lagi, “kenapa gak kuliah di Medan aja, kan enak tempat sendiri?”. Namun urung. Itu hanya pertanyaan imajinasi yang dipenuhi amarah tak terbendung. Bukan saat yang tepat untuk mencari perkara. Pun saya sadar, kalimat seperti itu hanya akan menimbulkan perpecahan.

Perjalanan yang mungkin hanya menghabiskan waktu lima menit ini, tidak banyak nasihat yang bisa saya berikan selaku mahasiswa yang lebih senior di Kota Banda. Hanya beberapa kalimat stagnan layaknya “Lain kali kalau jalan sendirian, hati-hati. Cari jalanan yang biasa ramai dilalui orang”.

Sebenarnya jika mau sedikit berpikiran jernih, tidak hanya di Banda Aceh, dimanapun lokasinya, kejadian seperti ini akan tetap ada, bahkan mungkin lebih mengerikan. Namun, saya tidak ingin memaksakan pikiran saya pada adek ini. Tugas saya hanya mengantar. Tak baik mengajak ngobrol perempuan yang hatinya tengah meringis. Barangkali setelah beberapa waktu, biarlah teman sekamarnya yang menenangkan dan dalam kesendiriannya ia merenung. Tugas saya selesai, dan pulang dengan perasaan yang saya tak mampu mendeskripsikannya.

Kecewa. Jika memang laki-laki itu orang Aceh, maka betapa bobroknya moral laki-laki Aceh kita. Parahnya, sang korban bukan orang Aceh. Semakin menambah daftar hitam catatan negeri kita di samping catatan hitam plintingan ganja. Ah, saya tak habis pikir jika adek ini menceritakan ke seluruh teman, keluarga dan kenalannya. Malu sekali jadi orang Aceh rasanya. -­_-

Karena khawatir dengan mudharat tulisan ini, saya tidak berniat menshare tulisan ini, seperti kebiasaan dulu-dulu, share di facebook. Kali ini hanya untuk menambah jumlah postingan tahun ini yang sangat menyayat-nyayat mata memandangnya.

Biarlah ini menjadi rahasia saya, Tuhan, dan Anda, yang mungkin nyasar ke blog dan postingan ini.
Syukur-syukur bisa kita ambil ibrah darinya.




Jumat, 14 Agustus 2015

Benarkah Ini Hipnotis?

Saya tidak menyarankan Anda untuk membaca ini. Namun jika memiliki sedikit waktu luang, silakan. :)

Cuaca ekstrim Banda Aceh beberapa hari ini sulit ditebak. Beberapa hari yang lalu hujan mengguyur tanpa ampun. Hari ini kita dipaksa untuk menyipitkan mata jika hendak bepergian keluar rumah. Agak maksa ya openingnya. Tapi yadahlah.

Panas yang menyengat menggugah selera untuk menyantap minuman yang dingin. Saya pun memilih untuk melabuhkan sepeda motor di lapangan tugu untuk sekedar membeli minuman. Kali ini jatuh hati ke sop buah. Sengaja memilih pedagang yang pengunjungnya tidak terlalu ramai. Karena apa? Gak kenapa-napa juga sih. Hitung-hitung meratakan rezeki para pedagang. 

Bukan kebetulan, karena saya merasa ada yang menggerakkan hati untuk berhenti di tempat ini. Kuat dugaan saya, Allah telah menitipkan rezeki untuk kakak ini melalui perantaraan saya sebagai pembeli. Yaelah, mau belanja aja ribet banget.

“Kak”, kata saya memulai perbincangan, “sop buah satu ya, dibungkus”.

Melihat kakak ini tidak langsung merespon, saya merasa ada yang salah dengan ucapan saya.

“Tunggu sebentar ya, Dek”, jawab beliau. “Buahnya gak ada, duduk dulu biar kakak beli buahnya”.

Tuh, kan! Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di kursi yang disediakan bagi pembeli yang memesan dan makan di tempat. Tentu dengan memastikan kembali bahwa di gerobak memang ada tulisan yang membuktikan bahwa saya tidak salah. Tulisan yang terpampang di gerobak adalah:
   ES CAMPUR
   ES TELER
   SOP BUAH 
   ES KELAPA 
Seingat saya demikian. Yang jelas, ada tulisan SOP BUAH nya.

Sempat mikir aneh. Ini gimana ya orang jualan. Bilangnya tersedia sop buah, eh buahnya gak ada. Ck ck ck. Barangkali udah habis, demikian saya berpikir, tidak mau pusing-pusing. Baiklah, saya akan menunggu untuk sesuatu yang gak apa-apa. *Loh?

Sebelum pikiran ini mengakar kemana-mana, kakak ini mendatangi saya. “Dek, boleh pinjam motornya? Kakak mau beli buah disana”, tanya beliau sambil menunjuk ke arah sana. Sampai berita ini diturunkan, saya masih tidak tahu sana mana yang dituju oleh si kakak.

“Boleh, Kak”, jawab saya enteng dan memberikan kunci motor.

Sampai tahap ini saya masih normal. Hingga akhirnya kenormalan ini berakhir ketika kakak ini menstarter motor dan melintas di hadapan saya.Yang terjadi saat itu, saya hanya bisa menyaksikan motor saya dikendarai oleh seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Orang yang tak saya kenal!

Sepersekian detik saya pun tersadar. Oh, apakah barusan saya dihipnotis? Ya Allah.

Pikiran yang bukan-bukan pun bermain. Berulang kali beristighfar belum juga berhasil mengusir kegundahan. Kembali terpikir, apa kesalahan yang saya buat hari ini hingga Allah menegur saya seperti ini?

Ada kecemasan yang bertanggung jawab tatkala memikirkan kejadian ini. Sambil menangkupkan kedua tangan di bawah dagu, saya memikirkan bagaimana cara mengabarkan ini kepada orang tua di kampung. Saya masih mengira ini modus pencurian berkedok pedagang sop buah. Astaghfirullah. Saya kembali mencoba mengingat wajah si kakak. Na’as, saya bukanlah pemerhati yang handal. “Andai saja ada kamera CCTV di balik pohon-pohon ini”, gumam saya dalam hati. Tentu dengan hati yang tak menentu.

Jika memang iya beliau mencuri, akankah saya menyita gerobaknya? Ah, apa yang akan saya lakukan dengan gerobak ini? Kembali teringat, begitu mudahnya saya melepaskan motor pemberian orang tua yang diiming-imingi barteran sebungkus sop buah yang dihargai HANYA enam ribu rupiah. Bila dibandingkan dengan harga sepeda motor, saya rasa penggunaan kata 'hanya', pas.

“Ya Allah, jika memang ini rezeki saya, maka kakak ini pasti kembali”, demikian sugesti diri yang dapat saya gencarkan. Saya hanya berpura-pura bersikap normal, namun pada kenyataannya, gundah ini belum juga bisa ditepis.

Saya mengotak-ngatik hape yang sebenarnya tidak ada bekeperluan, hanya sekedar pelepas gundah saat itu. Akankah saya menghubungi orang tua hanya untuk mengabarkan berita buruk ini? Gila saja. Tapi jika mereka tau dari orang lain, maka itu akan semakin memperuncing masalah.

Sampai di menit ke sekian, saya belum menemukan tanda-tanda jawaban yang cocok. Kejadian ini akan menjadi tragedi yang menyejarah sepanjang hidup bila benar dugaan saya. Astaghfirullah, saya kembali mencoba menenangkan diri dan berharap bahwa saya tidak menitipkan motor ini pada orang yang tidak tepat. Karena biasanya hanya pada orang yang saya percaya saja yang berani saya pinjami motor ini.

Benar saja, ternyata Allah tidak membiarkan kegundahan ini berlangsung lama. Sekitar 10 menit kemudian kakak ini kembali dengan sebungkus tentengan yang berisi buah-buahan. Puji syukur Allah masih menaungi saya dengan orang-orang berhati bersih. Padahal, jika terbesit saja niatan tidak baik, maka kakak ini cukup berhasil membuat saya kehilangan motor dan harus menghadapi kecemasan yang bertanggung jawab tadi. Hmmm...

Meski sepuluh menit, ternyata pikiran saya telah mengelana kemana-mana. Semoga rezeki kakak ini lancar dan berkah. Aamiiin. Mungkin untuk ke depan, saya tidak akan menemui orang sebaik ini, maka dari itu saya harus lebih mawas diri. Karena bang napi pernah berpesan, pencurian terjadi bukan hanya disebabkan oleh niatan pelakunya, namun juga karena ada peluang yang tercipta. Waspada menjadi harga mati. Demikan akhir kisah ini.
Saya pun kembali ke rumah kost dengan hati yang lapang dan penuh syukur. Ternyata Allah masih mempercayakan motor ini pada saya. Alhamdulillah.

Namun ternyata kisah ini tak berhenti sampai disini. Sedang asik menyantap sop buah, di luar kost ada yang sedang memberi salam. Bisa diperkirakan itu suara laki-laki dewasa, maka saya pun menjawab salam dari kamar saja, tanpa harus menemui pria ini. Besar harapan saya ada anak kost yang lain yang menjumpai beliau. 

Namun ternyata, setelah berkali-kali diberi salam, tak satupun yang menjumpai beliau. Akhirnya saya keluar dan menghadap.

“Saya mau ambil motor ini untuk ditambal bannya, udah dipesan sama Ibuk, kuncinya juga udah diserahkan ke saya”, demikian bapak yang tidak saya kenal ini mengawali perbincangan begitu melihat saya melintas.

Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Kenapa harus dengan objek yang sama? Sepeda motor!

Bedanya, kali ini targetnya sepeda motor yang biasa dikendarai ibu kost untuk pergi ngajar ke sekolah dan ke kebun. Jangan-jangan, terbebas dari modus yang tadi, saya terperangkap dalam modus yang satu ini. Pikiran buruk kembali mengambil peran. Jangan-jangan, kali ini beneran aksi hipnotis.

“Tunggu sebentar, Pak”, saya menyela. Saya berhamburan ke ruangan dimana kira-kira ada ibu kost, dan tak ada jawaban. Sepertinya beliau masih di sekolahan, pikir saya.

Dengan hati yang terus merapal doa, saya memberanikan diri untuk memastikan, “Itu kuncinya memang Ibu kost sendiri yang ngasih?”

Ups, kali ini saya berpikir kalau pertanyaan saya terlalu lancang. Khawatir bapak ini tersinggung. Saya kembali memikirkan cara terbaik untuk menghubungi ibu kost sambil menahan bapak ini untuk membawa motor ini pergi.

Na’as yang kedua, pulsa tinggal seribu tiga ratus sekian. Mencoba menelepon ibu kost, namun yang terdengar hanya ocehan operator yang berakhir dengan tut tuuut tuuut. Sementara si Bapak tidak memiliki hape, tepatnya, mungkin tidak sedang membawa hape.

“Ya udah, adek ikut kami saja, kalau tidak percaya”,kata beliau seperti menangkap rona ketidakpercayaan dari wajah saya. Kebetulan beliau datang bersama dengan seorang temannya.

Celaka!

“Adek udah makan? Biar nanti kami traktir minum”, lanjutnya.

Musibah!

Saya tidak menjawab satu pun pertanyaannya, meski sebenarnya jelas terdengar apa yang baru saja ditawarkan. Terdengar bercanda memang.

Saya kembali menekan tombol di hape. Meng-sms-i adik saya untuk segera megirim pulsa. Jika dulu ada modus mama minta pulsa, maka sekarang ada modus, kakak minta pulsa.

Na’as yang ketiga, sms balasan yang saya terima berisi mukaddimah, “tinggal pulsa yang 5 ribu adanya”.

Ya ampun, padahal udah jelas-jelas isi smsnya untuk dikirimi pulsa segera. Berapapun itu. 
Maka, dengan tidak memperpanjang mukaddimah, saya balas, “Boleh juga”, agar penderitaan ini segera berakhir.

Na’as yang kesekian, ternyata Bapak ini telah hilang kesabarannya, dan besar kemungkinan merasa dicuekin oleh saya yang sibuk mengutak ngatik hape, tidak mempedulikan obrolannya.

“Ya udahlah, Dek. Karena adek gak percaya, ini motornya saya tarok disini. Nanti jangan salahkan saya”.

Deg! Ini Bapak kenapa jadi ngancam-ngancam saya?

Lalu beliau berlalu meninggalkan saya yang masih terheran-heran akibat trauma yang bertubi-tubi.

“Maaf Pak, yaaaa”. Cuma itu kalimat terakhir yang bisa saya ucapkan, dengan nada yang sedikit memelas. Karena besar dugaan saya, bapak ini pasti merasa tercabik-cabik harga dirinya oleh saya, akibat ketidakpercayaan saya. Namun, beliau menjawab “Iyaaa”, dengan nada yang tanpa beban. Terdengar sedikit menyejukkan, ataukah ini hanya perasaan saya? Entahlah.

Meski bapak ini telah menghilang dari pandangan saya, namun sejumlah pertanyaan tak berhenti menggelayuti ruang pikir. Saya masih menganggap bahwa ini modus pencurian. Tak bisa dibiarkan. Apa jadinya jika saya membiarkan beliau membawa motor ini? Bukankah itu sama artinya dengan saya menyilakan beliau mengambil motor ini? Oh, bukankah ini sama artinya dengan saya merupakan komplotan para pencuri ini? Bisa kena pasal berapa lapis saya?

Kali ini, pikiran saya sudah bermain ke kantor polisi segala.

Kembali ke kamar dengan langkah gontai. Seakan masih tidak percaya dengan apa yang saya lalui hari ini. Di kamar bukannya tenang. Malah semakin kepikiran. Jika memang bapak tadi berniat jahat, bukankah bapak ini bisa saja melarikan motor ibu kost tanpa harus berkali-kali mengucap salam dan meminta izin?

Astaghfirullah. Sebuah kekeliruan besar saya tidak mempercayai beliau. Hingga akhirnya saya menanyakan pendapat teman di kost yang bersebelahan kamar dengan saya.

Meski sependapat, namun tak urung memberi efek positif dalam benak. Khawatir ibu kost marah dan menganggap saya telah mencampuri urusannya, meski-demi Allah-niat saya baik saat itu. Namun pikiran yang tidak-tidak ini segera saya tepis, mengingat ibu kost berprofesi sebagai guru BK di sebuah sekolah menengah. Pasti beliau ngerti lah, pikir saya. 

Kegundahan ini segera berakhir manakala akhirnya ibu kost pulang dan saya menceritakan duduk persoalan, berikut kekhawatiran saya. Ternyata memang benar, ibu kost telah menitipkan kunci ke bapak tadi untuk membawa motor itu.

Kali ini saya cuma bisa menyesal yang diikuti cengengesan yang tak berbentuk, meski ibu kost berkali-kali mengatakan “Kamu juga tidak salah”. Hehehehehehe..

Sabtu, 27 Desember 2014

Jumat Berkah

Pagi ini, seperti biasa, ibuku selalu mengantar anak bungsunya ke sekolah. Adik yang paling bontot hari ini akan mengikuti ujian semesteran. Pantas saja dua hari yang lalu dia sibuk menanyaiku perihal soal matematika melalui gaya paling klasik, sms-an.

Aku, seperti biasa. Sibuk dengan aktivitas menyibukkan diri sebagai mahasiswa yang rindu akan foto dengan jas berdasi. Hingga suatu ketika aku menerima sms dari Ibu. “Tadi mamak mogok honda sepulang antar adek ke sekolah.”

Hehe, ibu selalu mengatakan sepeda motor dengan sebutan honda. Well yeah, mungkin sudah menjadi kebiasaan di wilayah Aceh, mengatakan sepeda motor dengan sebutan honda. Atau  kalau gak satu lagi, ‘kereta’. Yang jelas, semua paham apa maksudnya. Satu dua mencoba membenarkan. Selebihnya, tutup telinga, menerima dengan penerimaan yang entah. Entahlah sejak kapan kebiasaan ini muncul.

“Gimana ceritanya?”, aku membalas singkat.

Ibu membalas sms dengan menceritakan kronologi kejadian. Sedikit lebih panjang. Kali ini seperti sedang baca koran.

“Ya, pantaslah mogok, Mak. Dari rumah memang minyak nya udah mau habis. Mamaak, mamak”, balasku penuh prihatin.

Aku pun, selalu mengatakan bensin dengan minyak honda. Ya salaam. Contoh Ibu-anak yang kompak.

Ternyata memang bensin nya sudah sedang sakaratul maut sejak di rumah. Nyaris syahid. Tapi ibu tetap yakin dengan rencananya untuk mengisi bensin selepas mengantar adikku ke sekolah. Walhasil, ternyata bensin bukanlah teman yang cocok untuk diajak kompromi. Tepat di depan lampu merah, sepeda motor nya benar-benar berhenti.

“Jadi mamak dorong lah hondanya ya?”, tanyaku. *tu kan Honda lagi!

Ya, akhirnya ibu terpaksa mendorong motornya hingga ke depan pendopo Bireuen. Untuk sekedar melepas lelah. Akhirnya Ibu memanggil RBT (sepupunya tukang ojek) untuk dimintai tolong membelikan bensin. Dalam jeda menunggu RBT, ternyata datang bapak-bapak yang murah hatinya mengantarkan bensin untuk ibu.

“Alhamdulillah, di zaman sekarang masih ada yang peduli seperti bapak ini. Semoga Allah melancarkan rezeki bapak ini”, demikian sms penutup dari ibu berikut dengan peng-aamiin-an dariku.

Semoga kisah si bapak yang baik hati bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk menjadi manusia yang senantiasa mempermudah urusan dan membantu kesulitan orang lain.

Oiya hampir lupa dengan si adek. “Gimana ujian matematikanya?”, aku meng-sms-inya selepas maghrib. “Insya Allah bisa jawab tadi”, balasnya.

Insya allah bisa jawab? Aku sedikit bingung. Maksudnya apa? Akhirnya aku sms lagi. “Berapa soal semuanya? Berapa soal yang gak bisa jawab?”, ngotot bertanya.

“40 soal semuanya, 4 soal yang gak bisa”, balasnya tidak kalah singkat.

Alhamdulillah. Meskipun tidak dapat nilai sempurna, paling tidak, nilainya memuaskan. Insya Allah. Padahal belajarnya lewat sms-an aja dengan kakaknya ini. Semoga nanti ketika menjelang UN, aku bisa balik ke kampung halaman untuk mengajarinya matematika. UN sudah dekat. Semoga aku bisa membantunya. Oh iya, adikku ini masih kelas 6 SD lho. Masih imut-imut. Hihihi..

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaii wasallam bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim) Lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An-Nawawi hadits ke-36).

“Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan. Dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan,” (HR. Thabrani).

19 Desember 2014


Catatan Hati Seorang Sarjana

“Mau jadi apa kamu?”, Ayah menaikkan volume suaranya, “Jika kerjaanmu selalu tidur tengah malam, bangun kesiangan. Lihat si Afdhal, anaknya Pak Rahmat, sudah jadi anak gedongan dia sekarang, punya mobil mewah pula. Lha, kamu?”, Ayah menghentikan ucapannya. Takut-takut salah ucap. Sementara ibu, jengah dan hanya mengelus-ngelus dada, terlihat kelelahan. Saban hari seisi rumah ribut hanya karena persoalan aku yang sampai saat ini masih menjadi pengangguran.

Ya, pengangguran. Label yang melekat bagi seorang sarjana pendidikan seperti aku. Dari segi akademik, sebenarnya aku termasuk mahasiswa yang cukup pintar dan jarang mendapatkan nilai di bawah standar. Itu yang aku tau dari teman-teman seperjuanganku. Terbukti dengan hasil kredit semesterku yang selalu melewati batas 3,5. Predikat cumlaude pun ku raih. Ayah dan ibu begitu bangga melihatku memakai baju toga saat itu. Buliran bening menghinggapi sudut mata ayah. Memang, ayah yang begitu menggebu-gebu menyarankan ku untuk meneruskan studi di fakultas pendidikan. Menyambung cita-citanya menjadi guru yang tidak kesampaian. Sementara ibu, ibu adalah sosok wanita yang selalu mendukung setiap pilihan yang aku ambil. Kebahagiaanku, kebahagiaannya pula.

Seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya, aku pun diperlakukan spesial oleh ibu. Tidak hanya ibu. Kedatanganku balik ke kampung, disambut spesial oleh sanak saudara dan kerabat. Senang sekali rasanya, saat tiba di kampung, ayah begitu bersemangat menampakkan ijazahku pada saudara-saudara yang berkunjung ke rumah. Maklum, dari kampung tempatku dibesarkan, akulah sarjana pertama. Tak heran, penduduk kampung begitu mengelu-elukan namaku. Bak superstar yang masuk ke kampung. Namaku pun tersiar hingga ke kampung sebelah. Sehari setelah diwisuda, seperti kebanyakan orang, aku pun ditanyai, “Sudah dapat tawaran kerja dimana? Sudah daftar CPNS belum?”

Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Jadi ku jawab saja sekenanya. Hari pertama pasca penobatanku sebagai sarjana, ku lalui dengan santai. “Ah, akhirnya aku terbebas dari penjara pendidikan itu!”, pekikku dalam hati.

Sebulan pertama di kampung kuhabisi untuk bermain dengan sepupu-sepupuku. Mengujungi sanak saudara yang telah lama tak bertegur sapa. Perbincangan semakin hangat manakala ayah ikut mendominasi perbincangan. Dan, bisa ditebak, ayah kembali mengagung-agungkanku. Oh, indahnya dunia.


Anak mana yang tak terharu manakala hasil kerja kerasnya bisa menaikkan harkat dan martabat keluarga. Keluargaku pun kena imbas tenarnya. Menjadi perbincangan dalam kalangan ibu-ibu. Terlebih saat membeli sayur-sayur pada pedagang keliling. 

Pejuang Subuh

Ada yang hadir untuk dikenang. Ada yang hadir untuk melengkapi hidup. Ada yang hadir untuk menjadi teman berbincang. Ada pula yang hadir hanya sekedar hadir, kemudian dilupakan.

Demikian hidup. Kita cukup memilih ingin hadir sebagai apa, dan ingin dikenang seperti apa. Jikalau boleh, maka tidak ada yang memilih untuk menjalani hidup yang kemudian dilupakan.

Sebut saja namanya Somat. Kini telah memiliki tiga anak dari seorang istri dari kampung kelahirannya. Masa mudanya dihabiskan seperti laki-laki pada umumnya. Bermain bola di lapangan, main hujan di sawah, sekolah, dan mengaji. Tidak ada yang begitu spesial dari diri Somat. Pun, ia bukan tipe laki-laki yang digandrungi para wanita. Terbukti, seumur hidup, ia tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita, terlebih pacaran.

Santun bahasanya, bijak kata-katanya, membuat siapapun yang berbincang dengannya akan betah berlama-lama. Siapa sangka pribadi yang sederhana ini begitu dikenang oleh seorang ibu kost, tempat dulu ia pernah menjadi anak kostnya.

Terkenang oleh ibu kost suatu ketika, “Setiap subuh Somat selalu berjalan kaki menuju meunasah dan mengumandangkan adzan disana.”

Ternyata ini rahasianya. Jarak meunasah dan kost-an Somat tidaklah jauh. Maka ia bisa menuju kesana hanya dengan bermodalkan sepasang sandal jepit. Setiap subuh ia menghidupkan meunasah dengan lantunan suara adzannya yang begitu syahdu.

Tak banyak anak muda yang dekat dengan mesjid dan bersedia mengumandangkan adzan tiap subuh. Karena itu sama artinya, setiap subuh ia harus rela dibalut dinginnya suasana subuh dan melangkahkan kaki menuju meunasah. Namun, Somat bisa menjalani rutinitas ini dengan senang hati. Setiap subuh dia mengemban amanah untuk menghidupkan meunasah. Satu hal sederhana yang dilakukan namun memberi efek yang luar biasa bagi peradaban.  Bayangkan, jika seluruh pemuda dalam satu kampung begitu ringan langkahnya menuju mesjid, meunasah, atau mushalla, maka semakin iri dan takutlah kaum Yahudi. Konon katanya, kaum Yahudi sedang gencar-gencarnya mencanangkan program agar pemuda muslim jauh dari mesjid dan alquran.

Tak heran pula, banyak pemuda yang kini telah menjadi bapak-bapak yang selalu menanyakan kabar Somat manakala suatu ketika bersilaturrahmi ke rumah ibu kost. Mereka rindu akan masa-masa berjuang bangun di pagi subuh. Menjadi pejuang subuh untuk menghidupkan meunasah kompleks tempat mereka dulu menetap sebagai mahasiswa.


Tak perlu melakukan hal besar untuk mengubah dunia. Cukup mulai dari diri sendiri untuk melakukan hal sederhana, namun berefek besar. Dengan sendirinya, dunia akan mengikutimu. 

Catatan Suka Duka '7 Huruf'

Bagi sebagian orang, menjadi mahasiswa tingkat akhir yang tidak kunjung wisuda menjadi momok tersendiri. Tak jarang, pertanyaan seperti, sudah bab berapa? Kapan sidang? Kapan wisuda? Menjadi pertanyaan yang paling sensitif dan tak layak untuk diangkat ke publik. Ada hal-hal yang cukup dijelaskan dengan isyarat senyuman. Karena kita terlahir dengan perbedaan dan rahasia masing-masing.

Namun jangan salah, sebenarnya pertanyaan itu pun bisa menjadi motivasi agar kita tidak terlalu santai dengan zona nyaman. Bahkan ada seorang teman yang telah wisuda dan nikah menyampaikan guyonan seperti ini:
Teman: Sepertinya kamu harus dimotivasi untuk nikah biar cepat siap skripsinya.
Aku: Aduh, aku masih polos gini
Teman: Kamu kira aku udah bermotif?

Entahlah itu bagian dari skenario memotivasi atau bukan. Well yeah, mengerjakan skripsi membutuhkan motivasi dan dukungan yang besar memang. Percuma dikerjakan giat seharian, namun liburrnya sebulan. *Hihi pengalaman pribadi

Prof. Rando Kim dari Seoul University dalam bukunya yang berjudul “Time of Your Life” mengatakan setiap bunga akan mekar pada musimnya. Mungkin saat ini musimmu belum tiba. Ada bunga yang kuncupnya sedikit lebih lama mekar. Namun, pada saat mekar, ia akan mekar dengan sangat indah seperti bebungaan lainnya. Jemputlah musimmu!

Setiap bunga akan mekar pada waktunya. Kita memiliki masa keemasan masing-masing. So, jangan pernah berpikir kalau kita ketinggalan dengan teman-teman yang lain. Pun, definisi sukses bisa dipandang dalam berbagai sisi. Relatif. Tapi, perlu dicatat pula, jika tidak dijemput, maka kesuksesan pun enggan menghampiri. Memiliki masa mekar, bukan berarti kita hanya duduk menunggu. Sembari menunggu, mari diisi dengan kegiatan bermanfaat dan menyibukkan diri dengan terus memperbaiki diri. Serta berkumpullah dengan orang-orang yang memiliki energi positif. Tidak melulu mengeluhkan pahitnya hidup.

Kenapa engkau mempedulikan gonggongan anjing, tapi justru mengacuhkan nyanyian merpati? Kenapa yang kau lihat hanya pekatnya malam, sedangkan indahnya bulan kau abaikan? Kenapa engkau hanya mengadukan sakitnya sengatan lebah dan melupakan manisnya madu?

Melulu mengeluhkan skripsi tidak akan menyelesaikan masalah. Terlebih menyalahkan dosen yang sibuk. Sejatinya, tidak ada dosen yang sibuk. Kita lah yang menyibukkan diri dengan sibuk mengatakan dosennya sibuk. Terlena dengan aktivitas yang boleh dikatakan tidak bermanfaat. *tamparan keras buat diri sendiri sebenarnya

Tidak perlu menjelaskan apa alasan keterlambatan kita menyelesaikan skripsi. Karena ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Pun, mengerjakan skripsi juga adalah pilihan. Skripsi sekedar formalitas untuk mendapatkan ijazah, ataukah skripsi sebagai sarana pengembangan akademik, yang dengannya kita akan terbiasa melakukan hal-hal yang dianggap kaku, menguras air mata, serta mengikis dompet.




Jumat, 21 November 2014

Di Persimpangan

“Mari berdamai dengan hati. Karena ianya punya hak untuk sejenak berelaksasi”, kataku.

“Hah, Kau bilang apa?”, katamu dengan suara meledak. Membuat nyaliku ciut. “Omong kosong! Kau memang selalu menggebu sesaat. Meledak-ledak di awal. Sumbumu pun bahkan belum terbakar sempurna.” 

Sia-sia semua penjelasan yang telah tertata rapi. Kau tak mengerti. Takkan mengerti. Sejak awal aku telah salah melangkah. Memberi penjelasan hanya akan memperpanjang rentetan “sidang”.

“Kau bilang, kau akan mengikuti semua kataku. Kau ingat itu, kan? Dengar, Kau telah mengawalinya dengan jaya. Posisimu aman terkendali. Namun, apa yang ada di pikiranmu?”, katamu dengan wewangi kebencian dan raut wajah masam.

Hening malam kian menemani. Menebarkan aroma bangkai tak terperi.  Busuk. Sebusuk kalimatmu yang menusuk. 

“Langkahmu terhenti, bahkan sebelum mencapai finish. Terlalu lama berdiam di tempat. Kau kehilangan kendali. Kehilangan penunjuk arah. Kehilangan tujuan. Kaaaau… Aaaargh!!”, kau buru-buru mengakhiri kalimat sebelum kata-kata makian meluncur deras tak tertahankan. 

Aku tak begitu jelas merekam semua kalimat yang kau utarakan. Karena otakku sedang menjelajah masa-masa jaya yang kau sebutkan. Apa? Jaya? Kau sebut itu jaya? Bagiku, itu tak lebih hanya sekedar maya. Kamuflase yang kau ciptakan sebagai penghibur hati. 

Bagaimana bisa aku meluruskan ranting yang bengkok? Memaksakan hanya akan membuatnya patah. 

Diam menyergap. Kau kehabisan kata-kata. Aku? Sejak kau mengambil alih pembicaraan, maka itu artinya, tidak ada waktu bagiku untuk menyela. Karena katamu, kau memberiku waktu. Kau bersedia mendengarkan terlebih dahulu. Tapi na’as bagiku, hanya satu kalimat, kau langsung merebut setir. Ini lah bukti, kemarahan sesaat tak berbanding lurus dengan logika. 

Aku hanya bisa memandangi kegusaranmu. Gurat kecewa jelas terlukis di wajah yang kini telah mengeriput. Tak tahan, kau akhirnya diam-diam menyeka lajur bening yang melintas di kedua pipimu. Gambaran itu tertangkap oleh kedua mataku yang hanya bisa duduk menatapmu dari “kursi pesakitan”. 

Ada perasaan sesak menggelayut dan menyentuh titik sensitif nuraniku yang kebal dengan suara-suara sumbang. Seumur-umur, aku belum pernah melihat kau menyeka kedua matamu. Kau selalu tampak kuat di hadapanku. Di hadapan mereka. Terlihat riang, meski terkadang di saat sepi, kau terlihat murung dan termenung. Fokusmu hanya satu. Foto yang selalu menghiasi dompetmu. Sosok yang mengantarmu memutar kembali memori kenyataan pahit yang harus kau terima saat aku masih mengenakan seragam merah putih. Sosok yang membuatmu merasa begitu spesial. Sosok yang bersamanya kau mengikat janji suci.

Kau kembali menyeka sudut matamu untuk kedua kalinya. Keheningan yang kau ciptakan membuatku sakit. Kau tak lagi bersuara keras. Hanya isak demi isak yang begitu kentara terdengar beriringan dengan suara detak jarum jam. Mendengarmu berteriak-teriak memang menyakitkan. Tapi melihatmu terduduk lemas tak berdaya jauh lebih menyakitkan dari pada hanya sekedar makian yang kau ucapkan. Meski kau selalu menghindar dari sumpah serapah itu.

Meski samar-samar, tapi terdengar jelas saat kau mengatakan aku berhenti bahkan sebelum mencapai garis finish. Terdengar kabur. Tapi aku mengerti maksudmu. Bahkan aku sendiri tak paham dengan apa yang sedang berkecamuk dalam diri. Aku tak lagi bersemangat seperti katamu, aku hanya membakar ujung sumbu dan mematikan nya sendiri sebelum sumbu itu menjalar dan membakar habis dirinya.

Resah. Namun aku sendiri pun tak mampu mendefinisikan resah yang ku rasa. Ibarat kata, hidup segan mati tak mau. Begitulah perumpamaan hidup yang sedang ku jalani. 

Kau perlahan bangkit meraih sesuatu. Melangkah lemah ke arahku. Aku tak kuasa bertatapan dengan wajahmu yang dipenuhi air muka kesedihan. Maka kutundukkan wajahku dalam-dalam. Sambil merapal doa semoga kau tidak kembali menghakimiku. “Ya Tuhan, ampuni aku, tolong akhiri segera malam panjang ini,…”, ingin ku lanjutkan rapalan lain, namun segera terhenti saat kau menyodorkan sesuatu.

“Ini, sudah berapa lama kau tidak menyentuhnya?”, kau bertanya dengan nada yang lebih teratur. Aku mendongak. Air mukamu kini jauh lebih menenangkan.

Aku mendapatimu kembali sebagai pemimpin keluarga sekaligus ayah. “Pergilah berwudhu dan menghadap Sang Pemilik Rencana. Benamkan wajah dan memintalah kepadanya agar kau bisa kembali menjalani kehidupanmu yang normal. Tidak seperti zombie yang menyusahkan”, katamu dengan sedikit menyunggingkan senyum. 

Aku tahu, meski kau mudah meledak-ledak, kau tetaplah Ayah yang selalu aku banggakan. Pejuang yang selalu ku kagumi. Artis yang selalu bisa berperan sebagai ibu saat aku butuhkan.

Tak butuh berlama-lama, aku bangkit menuju peraduan. Membenamkan muka menyesali kehidupan yang telah aku sia-siakan. Teramat sesal karena khilaf melupakan sosok ayah yang menaruh harapan besar untuk keberhasilanku. Besar harapannya, paling tidak saat ia pergi, aku sudah mampu hidup mandiri.

Ku dekap lamat-lamat mushaf yang berdebu itu. Lama sekali aku tak menyentuh hadiah pemberian ibu saat aku berhasil menjuarai lomba cerdas cermat tingkat SD. Meski saat itu, aku tak mengerti mengapa ibu menghadiahkan barang ini, di saat teman-temanku yang lain dihadiahkan mainan seperti mobil, pesawat, dan robot. Aku tak banyak bertanya karena aku terlampau senang menerima hadiah.

(Bersambung kapan ingin disambung)