Pages

Kamis, 22 September 2016

Untuk Diniya



Kekalahan terbesar dalam hidup saya saat ini adalah kalah menghadapi nafsu. Hingga akhirnya kalah melawan waktu yang terus beranjak tanpa ba bi bu. Terseret arus, sampai akhirnya tergerus dan harus menahan malu. 

Dengan rentetan kisah hidup yang mendrama, saya bersyukur punya seorang sahabat yang mampu mendongkrak semangat saya yang tengah lesu. Satu kalimat sederhana yang sampai sekarang masih saya ingat adalah, “tetap percaya diri ya”. Seolah ia paham, saya tengah dibadai defisit percaya diri. Layaknya aborsi, kepercayaan diri saya tamat bahkan sebelum sempat berkembang. 

Tak berlebihan rasanya jika saya mengatakan sahabat saya ini memiliki sikap bijak yang harus saya teladani, lagi dan lagi. Sebab ia pernah tidak sengaja barangkali ‘menjawir telinga’ saya agar tak perlu mengurusi hidup orang lain terkait aib. Kenapa saya katakan tidak sengaja? Baca lagi kelanjutannya ya. :D

Ada satu dialog, dimana saat itu saya tengah bercerita tentang kekonyolan saya yang suka berkumur-kumur, kemudian menelan air kumuran tersebut, dan ternyata disaksikan oleh sepasang mata indah lain. Pemilik mata tersebut merasa heran dengan ‘aksi’ itu, lalu memberanikan diri untuk bertanya, “kenapa ditelan?”. Tanpa berpikir panjang, saya hanya mampu menjawab, “Kan sayang kalau dibuang”. Gadis pemilik mata indah ini pun tertawa terpingkal-pingkal hingga saya harus menahan gejolak ingin bertanya sebabnya apa.

Saya menceritakan kembali kisah ini ke Dini, sahabat saya, yang akan menjadi tokoh dalam tulisan ini. Ia pun tak kalah hebohnya dalam menertawakan saya, namun dengan gaya yang lebih elegan. Ketawanya Dini sangat berkelas, masih mampu mempertahankan sisi anggunnya. 

Satu hal yang saya kagumi dari sosok Dini ini, jika ia akan memuji seseorang, maka ia akan total sekali melakukannya. Pilihan kata yang ia gunakan tidak tanggung-tanggung hingga bisa bikin hidung mekar, wajah mesem-mesem dan merasa kehilangan pijakan, seperti yang ia lakukan pada bagian cerita di kalimat berikut.

“Helka ini lucu ya. Biasanya air kumur itu dibuang”, jelasnya singkat. Saya yang mendengar hanya bisa ber-‘oh ya?’. Ketidakpedulian akan sekitar membuat saya luput memperhatikan kebiasaan kumur-kumur ini. Heuheu.. dan ketahuilah, Dini punya kebiasaan mengganti kata aneh menjadi lucu. Ia secara frontal mengakui kalau saya ini orang yang humoris, yang nyatanyaaaa.. ah, teman-teman pasti lebih tahu. 

“Tapi Helka ini, satu-satunya temen Dini yang gak pernah menceritakan orang lain. Gak pernah bercerita tentang keburukan orang lain”, hingga tanpa sadar kalimat ini ditutup dengan membincangkan orang lain. Keh keh keh.. sepertinya Dini khilaf saat mengatakan kalimat di atas. Wkwkwkwkwk..

Itulah mengapa tadi saya katakan ia mampu ‘menjawir telinga’ saya secara tidak sengaja. Mau tak mau, ucapan yang saya rasa khilaf ia ucapkan itu begitu membekas hingga saat ini. Ucapan itu berhasil membungkam keinginan saya saat pernah ingin membicarakan orang lain. Ketahuilah, perbincangan bersama wanita kerap dibumbui dengan tokoh-tokoh yang tak berada di tempat perbincangan. Wallahu a’lam. Istilah kerennya itu bergosip. Menebar aib orang lain tanpa solusi. Hanya untuk kepuasan dan sensasi. Apalagi yang nulis ini. Lupa akan diri yang hanya tong tak berisi. 

Perihal ini pernah Ayah kemas dengan kalimat apik, ”Tanyoe nah bek lagee asee, galak that com-com brok gob. Adak ka ta teupeu na isu cerita hana get, bek tajak keunan tajak peukrap droe. Adak lagee nyan, tanyoe harus ta jaga cit harga diri ureueng laen. Bek tajak bahas nyan dikeu ureueng nyan.” Yang artinya kurang lebih “Kita jangan seperti anjing, yang suka mengenduskan hidungnya untuk mencium keburukan orang lain. Meski kita tahu ada isu yang tidak baik mengenai si fulan, kita jangan mendekatinya dengan alasan ingin tahu kejelasannya seperti apa. Ada baiknya kita juga menjaga harga diri si fulan.”

Oleh karenanya, saya menjunjung tinggi sekali cita rasa hidup yang Dini pilih. Fokus pada pengembangan diri. Bukan fokus melihat kekurangan orang lain untuk ‘meroketkan’ diri.

Hari ini Dini genap berusia 24 tahun. Meski lebih muda 4 bulan dibandingkan saya, Dini jauh lebih dewasa. Pengalamannya yang telah bertemu banyak orang, melihat dunia yang lebih luas dibanding saya, mau tak mau sedikit mempengaruhi pola pikir dan juga komunikasi. Maka untuk banyak hal, saya kerap menanyai dan memintai sarannya. 

Kesenangan saat bersamanya adalah saat dia tak repot mengurusi dandanan pakaian yang terkadang asal-asalan saya pilih. Sementara Dini, selalu tampil sederhana, namun terlihat necis dan rapi, kontras sekali dengan penampilan saya. 

Meski memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi, tapi Dini selalu mengkhawatirkan saya. *yang ini kegeeran sih sebenarnya

Bukan tanpa alasan, Dini yang selalu ingin berbagi ini, selalu punya cara untuk membantu temannya ini meski kini kita harus mengudara dulu untuk berjumpa. Terkait skripsi saya, tak terhitung lagi bantuannya seperti apa. Saya yang terkadang terpikir pun tidak, untuk menyelesaikan kewajiban satu ini, malah Dini yang repot-repot mencari penyelesaiannya. Huft! Skripsi, yang sabar yaaa.. Tidak lama lagi. *ucapan yang sama sejak dua tahun yang lalu -_-

Survey kecil-kecilan yang keabsahannya dipertanyakan membuktikan bahwa kita bisa melihat watak teman saat menanyai skripsi ini. Untuk Dini, saya tidak ragu-ragu untuk mengatakan yang bahwa ia begitu sabar dan keibuan. Mengerti kapan harus menyentil tanya-tanya skripsi, dan kapan harus memberi jeda bertanya. Terkadang saya harus menghindari beberapa teman yang sedikit bawel (tentu maksudnya baik), namun yang terjadi, yaaah bersabarlah teman, menghadapi teman kalian yang sedikit keras ini. Hehehe

Banyak sekali pengalaman kocak, seru, jarang sih ada pengalaman sedih bersama Dini. Karena kita sama-sama bukan pribadi yang melow dan terlalu berlarut dalam kesedihan. Kalau sedih ya tidak perlu berlebay di hadapan teman. Kita sama-sama bukan sosok yang ingin merepotkan dan menyusahkan orang lain. *sekayak ‘menjual’ diri ya. ^^

Semangat Dini yang melebihi tinggi semampainya, berbanding lurus dengan sikap positive thinkingnya. Satu hal lagi yang saya harus banyak-banyak untuk menyerap sifat ini. Tipekalnya yang tidak hanya ingin sukses sendiri, terkadang bikin saya malu. Saya kerap khawatir Dini akan tidak pede memiliki teman yang ‘gagal’ seperti saya. 

Perasaan ‘gagal’ inilah yang selalu ingin dimusnahkan Dini. Maka meski kini tak lagi menempati tanah yang sama, Dini masih kerap memotivasi saya untuk terus bangkit. Mengejar ketertinggalan dengan bertanggung jawab. Satu-satunya kekurangan Dini adalah, ia memiliki banyak sekali kelebihan. Yohuhuhuhu.. 




Untuk Diniya, semangat mengejar gelar masternya ya. Dengan usia yang tak lagi muda ini, semoga akan semakin bijak dan selalu tebarkan kebaikan dimanapun Dini berada, seperti yang selama ini Dini lakukan. Tetap menjadi Diniya yang baik hati, suka menolong dan rajin menabung saat nanti kembali ke tanah lahir.

With love,
Helka imut yang sedang berjuang. ^^

Sabtu, 03 September 2016

Untold Stories of Laskar Syu’ara 227


Mungkin bagi sebagian dari pembaca blog setia (kepedean yang tak tertolong) manjaddawajada3 ini (entah kenapa ada pakek 3 nya pulak), akan bertanya-tanya apa itu Laskar Syu’ara 227? (Padahal entah siapa yang bertanya-tanya. Entah siapa pun yang penasaran) *Ini kenapa jadi ngomong sendiri gini? Heuheu..
 
Yaaah..biarpun gak ada yang penasaran, tapi saya merasa penting untuk menulis ini. Hitung-hitung menstimulus diri. Sebab Laskar Syu’ara 227 itu adalah ... 

Kira-kira satu tahun yang lalu... (Biar kayak di film-film, ada alur mundurnya ^^)

Sebagaimana biasa, FLP Banda Aceh mengadakan kelas menulis tiap dua minggu sekali di rumcay. Kelas menulis yang dieksekusi pada saat itu adalah kelas menulis puisi yang dimentori langsung oleh senior kita di FLP, yaitu Kak Nuril. Saya tidak begitu mengingat apa isi materi kita saat itu. *Semoga kak Nuril gak membaca tulisan ini.

Satu hal yang jelas di ingatan, Kak Nuril mengawali pertemuan kelas kita saat itu dengan cara berbeda. Beliau meminta kesediaan salah satu dari kita untuk membuka Al-Quran dan mencari halaman untuk Surat Asy-Syu’araa, ayat terakhir, 227. Ia meminta salah satu dari kita untuk membaca terjemahan beberapa ayat sebelum, hingga sampai ke ayat 227.

Ayat tersebut menceritakan tentang penyair yang kebanyakan adalah pendusta yang suka memainkan kata-kata. Hingga tiba di ayat terakhir, yang memerintahkan kita untuk menjadi penyair yang selalu berbuat dalam kebajikan. Setiap ucapannya bak lautan kata penuh hikmah. 

Oleh karena penggalan ayat ini, kita kompak (kecuali saya, karena saya sih setengah-setengah) untuk membuat sebuah grup (biar agak genk sikit, padahal manada). Kebetulan yang berhadir pada hari itu perempuan semua; Cut, Aya, Nawra, Ulfa, Siti, dan saya, hingga muncullah ide Laskar Syu’ara 227 ini untuk menamai grup kita. Ide ini dicetuskan oleh sohib saya, Icut. Saya sih bukannya nggak ada ide, tapi malas mikir. Mending disuruh mikir buat ngerjain kalkulus. *Eh, nggak ding.

Awalnya saya merasa aman-aman saja bergabung di grup ini. Karena yang berhadir hari itu, secara otomatis dinyatakan sah sebagai personil Laskar Syu’ara 227, untuk selanjutnya kita ringkas menjadi LS227. Saya pikir ya tidak ada salahnya. Tapi keamanan saya terusik, jiwa saya terguncang (fine, ini mulai lebay!) saat muncul ide untuk menampilkan LS227 jika ada kegiatan yang membawa nama FLP. *Saya pucat pemirsaaa, saya pucat! -_-

Itulah kali pertama saya merasa menyesal hadir di kelas menulis. Heuheu.. T_T *nangis bombay

Akibat dikompori Kak Nuril dan semangatnya Icut mengomandoi LS227 ini, akhirnya personil kita bertambah jadi 10-an. Hehehe.. Karena kita bukan grup ternama, beken, atau apalah, dan gak ada hitam di atas putih, ya kita terima-terima saja. Meski untuk setiap performance, agaknya janggal jika seluruh personil ikut tampil. Takutnya cherrybelle merasa tersaingi. *halah

Akhirnya kita memilih siapa saja yang punya waktu untuk tampil di event terdekat, seminar bersama mbak Sinta Yudisia, Ketua Umum FLP saat ini. Na’asnya saya tidak meyakinkan saat menolak untuk tampil (saya lupa alasan apa yang saya pakai saat itu). Barangkali tidak kuatnya alasan menolak itulah yang membuat saya akhirnya diikutsertakan. Huft berkali-kali!

Ketahuilah, untuk tampil perdana ini, seminggu menjelang hari H, hidup saya tidak tenang. Terlebih spanduk acara dibuat dengan nilai ekspektasi yang tinggi.
Turut menampilkan:
NAZAR SHAH ALAM
LASKAR SYU’ARA 227
Padahal saya berdoa semoga gak jadi tampil atau ada halangan apa kek gitu. Maka tidak heran, penyesalan hadir di kelas menulis pun datang lagi. Huft berjuta-berjuta! 

Itulah penampilan perdana saya di atas panggung bersama Icut, Aya, dan Nawra mengatasnamakan diri sebagai awak LS227. Tidak jelek, namun tidak juga begitu wow. Biasa saja. 

Niatan saya, ke depan tidak mau lagi tampil seperti itu. Gak tenang sayanya mah. Selang tiga bulan kemudian, FLP bikin kegiatan lagi dengan menghadirkan mbak Helvy Tiana Rosa dan pak Edi Sutarto. Kali ini, fix saya gak mau ikut lagi tampil-tampil di panggung itu. Tapi Icut, ah, saya tidak kuasa menolak. Akhirnya, ikut lagi. Sebab belum trauma.
 
Ide kali ini sedikit gila. Tina yang menawarkan diri untuk menjadi manajer LS227 (biar kayak orang-orang), menyarankan agar penampilan puisi kali ini diselangi dengan musik-musikan. Kita memutuskan untuk menabuh galon AQ*A. 

Karena kegilaan yang tidak bisa saya ceritakan, dan saya tidak berani menegakkan muka setelah tampil saat itu, maka untuk event2 selanjutnya, saya tak lagi bersedia tampil. Tidak hanya menjelang hari H hidup saya tidak tenang. Tapi seminggu setelahnya pun batin saya masih terguncang. Bayangan penampilan itu masih menari-nari dalam ingatan. Maka mau dibujuk semanis apapun sama Icut, saya gak goyang. Sebab kali ini udah trauma! 

Sebenarnya kegilaan itu muncul atas dasar ide yang brilian. Hanya saja, anggaplah kami sedang naas dan tidak total. Hehehe..

Berikut ini beberapa foto yang saya coba searching di google. Sayang sekali, ternyata LS227 belum cukup populer. *ngarep

 Pucat seketika pas tampil. Khak!
 
Saat fans sedang merekam aksi rekan-rekan saya. >_<

Harusnya ada beberapa foto untuk penampilan ‘luar biasa’ LS227 saat itu. Hanya saja, itu semua tersimpan di laptop sebelumnya yang kerusakannya lumayan parah. Tidak ada foto yang terselamatkan. Bye foto, bye kenangan!

Padahal itu foto rencana mau ditunjukin ke anak-cucu. Huft lagi! 
Setidaknya mereka bangga punya Mak dan Nenek yang berani tampil di atas panggung. Biar ada hashtag #BanggaJadiAnakMak atau #BanggaJadiCucuNenek atau yang terakhir #BanggaMendampingimu *ngeeeeng... :D

Sudah dulu ya. Capek nulisnya. Hehe..
Sebenarnya yang mau diceritakan tentang keeksisan LS227, eh malah syurhat ujung-ujungnya. Kebiasaan!











Kamis, 25 Agustus 2016

Baarakallaahu Laka.. Bahagianya Merayakan Wisuda


Mengutip sedikit judul bukunya Salim A. Fillah, cerita kali ini gue beri judul 'Baarakallaahu Laka.. Bahagianya Merayakan Wisuda'. Jujur aja, gue paling susah nentuin judul, dan kebetulan buku ustadz Salim yang ini terlihat oleh gue, dan ya, selanjutnya sudah tertebak, judul buku itu, dijadikan judul tulisan di blog dengan sedikit gubahan. Cinta menjadi Wisuda.Yihaa..

Sebelum kita mulai cerita kali ini, gue mau ngasih tau sesuatu biar cerita kali ini lebih terarah. Perkenalkan, gue Helka, sulung dari 4 bersaudara. Hari ini, adik pertama gue, Andi, wisuda di kampus yang sama dengan gue. Sehari sebelumnya, Yoga, adik gue yang nomor dua sidang. Yoga kuliah di daerah asal gue. Nah, yang bontot masih unyu, kelas 2 SMP. Gue? Hmmm nyaris sidang. Kebayang apa rasanya jadi gue, dilangkahi sidang dan wisuda dua adik gue. So, yaaa.. gue mesti pasang muka tebal banget menghadapi kedua orang tua gue yang akan datang ke Banda untuk wisuda Andi. (Sungguh bukan paragraf pembuka yang efektif, hitung aja tuh gue nya ada berapaan). 

Gue dan Andi tinggal di rumah yang berbeda. Ayah punya alasan sendiri untuk gak menyewa satu rumah untuk kita. Alasannya simpel. Ayah tidak ingin satu diantara kita risih jika kedatangan teman suatu waktu ke rumah. Oleh karenanya, Andi ngekost sendiri, gue juga. 

Nah, sehari sebelum wisuda, gue terpaksa beres-beres kamar deh ni. Biasanya ini kamar nggak ada bersih-bersihnya. Buku, lembaran-lembaran penelitian skripsi, dan pakaian yang baru diangkat dari jemuran berserakan di atas kasur. Saking malasnya, pernah gue biarin mereka berserakan di kasur, lha guenya tidur di lantai papan. Aiiih, kebayang begitu malasnya ini gadis. Walhasil, bangun-bangun, sakit sekujur badan, dan gak lagi-lagi deh kayak gitu. Heuheu..

Rencana awal, Yoga dan adik gue paling bontot, Vanny, akan ikut serta menghadiri perayaan wisuda Andi. Namun Yoga masih harus menjalani sidang pada saat Emak dan Ayah berangkat. Ya sudahlah, akhirnya Mak dan Ayah saja yang pergi. Tiba di Banda, malamnya Ayah menginap di kost-an Andi, sementara Emak bareng gue. Semalam saja bareng Emak, kamar gue rasanya kayak hidup banget gitu lho ya. Gak tau kenapa. Hehe.. 

Setelah bermufakat, akhirnya Ayah mengalah, dan diputuskan Emak lah yang akan masuk ke gedung perayaan wisuda oleh karena undangan yang dibagikan ke para wisudawan hanya untuk satu orang. Rencananya gini, Ayah mau melobi yang jagain pintu. Kali aja jebol. Gue sih udah yakin gak bakalan bisa, dan mencoba meyakinkan Ayah. Tapi Ayah inih! Hmmm,, gitulah ya.^^

Ayah dan Emak sempat kecewa, sebab Andi lulus cumlaude, namun undangannya cuma satu. Hmmm.. Gue bisa ngerasain gimana dilemanya adik gue harus memilih antara Emak atau Ayah yang harus masuk. Mungkin kalau gue dulu udah wisuda bakal dilema kayak gitu juga. Huft!

Esoknya hujan lebat, Alhamdulillah yang wisuda adik gue ini cowok. Gak begitu ribet lah dengan pernak pernik hiasan dan riasan. Tapi Emak gue...

“Sayang kali anak mamak ini. Gimana ya? Hujan pula jam segini. Eka ada payung?”, tanya Emak dengan raut wajah penuh cemas dan harap.

Gue sih santai aja, meeen. Jarak kost-an Andi dengan gedung nggak lah jauh-jauh amat. Ibarat kata, ngesot juga sampai. Tapi Emak inih! Gitulah yaa.. hehe.. Jadi, gue sebisa mungkin mencoba santai dan nggak panik. Kalau gue juga panik, Mak panik. Duh, gak sanggup pikir. 

Sedari tadi pagi Emak sudah siap, sudah rapi, dan begitu bersemangat. Gue juga, meski belum mandi. Hanya sikat gigi dan semprot sana sini. Gue ngiranya gini, gue hanya mengantar Emak saja, dan Ayah juga bisa masuk ke ruangan sebab Ayah malamnya pede sekali akan berhasil melobi yang jagain pintu masuk. Jadi ngapain gue nunggu lama-lama di luar gedung, mending gue balik ke kost-an kan ya. Pukul 11 nanti gue mandi dan kemas-kemas. Gitu sih gue mikirnya. Namun yang terjadi....

Ayah gagal masuk ruangan dan gue mesti nemenin Ayah di luar gedung, tepatnya di tenda yang disediakan pihak penyelenggara wisuda. Buset dah, ini gue belum mandi lho ya dan pakaian gue, dah lah gak tau bilang. Biasanya sih, gue pede-pede aja keluar seperti itu. Namun ini, acara wisuda bro. Masak gue sendiri yang ngegembel. “Plis ya Allah, jangan pertemukan hamba dengan yang mengenal hamba”, doa pagi gue.

Alhamdulillah Allah gak ngebiarin gue berlama-lama menunduk malu. Ayah dipertemukan dengan teman kerjanya dulu. Bincang-bincang hangat pun terjalin. Yes, ini saatnya gue beraksi. Gue segera pamitan ke Ayah untuk balik ke kost sebab mendadak gue mules. Ini biasa terjadi kalau gue ngeliat orang rame. Huft! Malas li da. 

Ayah dan salah satu teman kerjanya yang dipertemukan saat acara wisuda.
Ecek-eceknya sedang menatap masa depan.

Pukul 08.55 di hape, gue meluncur ke kost-an. Gue sih matokin diri siap kemas-kemas dalam satu jam. Eh rupanya, tidak kurang dari 30 menit gue siap. Gue aja sekayak gak percaya diri. Ini gue? Bisa secepat ini? Hayyaa! Bisa lah diajak ikut perang, kalau kata orang dulu. Hehehe..

Gue langsung meluncur balik ke tenda, berharap Ayah masih disana. Alhamdulillah masih, dan hujan kembali turun setibanya gue bertemu Ayah. Memang Allah sebaik-baik perencana. Awalnya gue menangkap rona-rona kecewa yang begitu dalam sebab Ayah tidak bisa melihat langsung anaknya diwisuda. Karena ini wisuda pertama dalam keluarga kami. Tapi setelah muter-muter gedung, dan bertemu sejumlah teman kerja dulu, Ayah tidak lagi semurung tadinya. Sebab ternyata teman-temannya juga menyerahkan undangan ke para istri. Xixixixi.. Ayah baru sadar, sepertinya cuma Ayah yang ngebet pengen masuk ruangan. Keh keh keh, gue nyaris ketawa. Ayah inih!

Singkat cerita, menjelang dzuhur, acara wisuda pun selesai. Tidak bisa tidak, gue dan Ayah segera merapat ke dalam ruangan, mencari sosok Emak dan Andi dalam lautan manusia. Binar-binar bangga tak bisa tertutupi dari wajah Emak dan Ayah. Alhamdulillah, satu anak laki-lakinya telah menyelesaikan tanggung jawabnya dengan sangat baik. Lu keren, Bro.

Momen ini pun kita abadikan dalam sejumlah foto dari kamera hape yang ala kadar ini. Kita bukan keluarga yang gila-gilaan dengan hape keren. Tapi saat itu, kita seperti menyesal gak satu pun yang punya hape keren. Kriiik.. kriiik.. *hening cipta

Berikut ini beberapa foto dari kamera hape yang alakadar. Ketahuilah, kita gak ada yang ngerti dengan pencahayaan di hape. Gimana mengatur kontras yang bagus, apalagi angle yang tepat yang bisa ngeluarin sisi terbaik. Heuheu..

Alakadar sekali kan foto ini.. hehehe.. Buram di segala sisi. ^^


Sekali-kali boleh kan ya, ngerasain duduk di kursi panas pejabat kampus itu gimana.
 Lihat! Ayah sampai merem-merem.

Ini Ayah saat dipaksa Emak buat eksis berdua saja. Hehehehehe..


 
Ini gak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi? Kok lu tiba-tiba ganteng ya, Bro?
Biasanya kan manis. ^^


 
Ini mobil buat gaya-gayaan aja. Nyatanya itu bukan punya kitorang.
Jadi beu selow, bek panik, dan
jangan ada kheun-kheun meulikot antara geutanyoe dua. :D

Apa? Lagi?
Duh, ini foto juga udah melewati serangkaian proses seleksi ketat. Best of the best kalau kata orang-orang. Aw.. aw..

Sekian.